Menuju Akademisi Berkelas Dunia, Peserta LAPP 2026 Dalami Strategi Riset dan Kolaborasi Internasional Bersama Direktur SPs UIN Jakarta
Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta, Prof. Dr. Zulkifli, M.A., memberikan kuliah yang menekannkan lima pilar dalam Membangun Kapasitas Riset dan Kolaborasi Internasional bersama Peserta LAPP 2026 di Gedung SPs. UIN Jakarta, Kamis, 29/10/2026).
Jakarta, 29 Oktober 2026 – Dalam upaya memperkuat wawasan dan kesiapan akademik peserta menuju lingkungan pendidikan tinggi bertaraf internasional, Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menghadirkan Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta, Prof. Dr. Zulkifli, M.A., sebagai dosen tamu dalam rangkaian kegiatan Language and Academic Preparation Program (LAPP) 2026. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (29/10/2026) di Gedung Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta ini diikuti oleh para peserta LAPP 2026.

Sesi foto bersama Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta, Prof. Dr. Zulkifli, M.A., usai memberikan materi "Membangun Kapasitas Riset dan Kolaborasi Internasional" bersama Peserta LAPP 2026 di Gedung SPs. UIN Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026).
Dalam sesi dosen tamu tersebut, Prof. Zulkifli menyampaikan materi bertajuk Building Research Capacity and International Collaboration (Membangun Kapasitas Riset dan Kolaborasi Internasional). Materi ini menyoroti pentingnya penguatan kapasitas penelitian dan pengembangan jejaring akademik internasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan daya saing akademik di tingkat global.
Dalam pemaparannya, Prof. Zulkifli menekankan bahwa pengembangan kapasitas riset tidak hanya bertumpu pada kompetensi individu peneliti, tetapi juga membutuhkan dukungan kelembagaan, budaya akademik yang kuat, serta ekosistem penelitian yang berkelanjutan.

“Pengembangan kapasitas riset tidak hanya bertumpu pada kompetensi individu peneliti, tetapi juga membutuhkan dukungan kelembagaan, budaya akademik yang kuat, serta ekosistem penelitian yang berkelanjutan,” ungkap Prof. Zulkifli.
Ia kemudian menguraikan lima pilar utama yang menjadi fondasi pengembangan kapasitas riset. Pilar pertama adalah Individual Skills and Human Capital, yakni pengembangan keterampilan individu dan sumber daya manusia melalui pelatihan metodologi penelitian serta peningkatan kompetensi profesional. Pilar kedua, Institutional Infrastructure and Culture, menekankan pentingnya infrastruktur, akses terhadap sumber daya, tata kelola, serta budaya kelembagaan yang mendukung produktivitas penelitian.
Pilar ketiga adalah Collaborative Networks and Partnerships, yaitu pengembangan jaringan kolaborasi dan kemitraan. Kolaborasi multidisipliner, kerja sama antarlembaga, serta keterlibatan dalam jejaring akademik global menjadi aspek penting untuk memperluas pertukaran pengetahuan dan menghasilkan penelitian dengan perspektif yang lebih luas.
“Kolaborasi internasional menjadi elemen penting dalam meningkatkan kualitas penelitian melalui pertukaran pengetahuan, penguatan jejaring akademik, dan pengembangan perspektif multidisipliner yang mampu menjawab tantangan global,” jelasnya.
Pilar keempat, Knowledge Translation and Dissemination, berkaitan dengan penerjemahan dan penyebarluasan pengetahuan. Hasil penelitian perlu dikomunikasikan melalui berbagai saluran, seperti publikasi jurnal ilmiah, majalah populer, penyusunan policy briefs, dan keterlibatan publik. Dengan demikian, manfaat penelitian tidak hanya terbatas pada lingkungan akademik, tetapi juga dapat dirasakan oleh masyarakat luas.
Adapun pilar kelima adalah Sustainability and Strategic Evaluation, yang menitikberatkan pada keberlanjutan dan evaluasi strategis. Aspek ini mencakup pemantauan dan penilaian secara berkelanjutan, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, serta diversifikasi sumber pendanaan untuk memastikan keberlangsungan kegiatan penelitian.
Melalui pemaparan lima pilar tersebut, peserta LAPP 2026 memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai pentingnya membangun ekosistem riset yang terintegrasi. Penguatan kompetensi akademik perlu berjalan beriringan dengan pengembangan budaya penelitian, perluasan kolaborasi internasional, serta kemampuan mengomunikasikan hasil penelitian kepada masyarakat luas.

Kehadiran Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta sebagai dosen tamu menjadi bagian dari upaya memperkaya pengalaman akademik peserta LAPP 2026. Pembekalan ini diharapkan dapat mendorong peserta untuk tidak hanya memiliki kesiapan bahasa dalam menempuh studi lanjut, tetapi juga memahami budaya akademik, mengembangkan kemampuan penelitian, dan membangun jejaring kolaborasi di tingkat internasional.
LAPP 2026 merupakan program kerja sama antara PPB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma), Kementerian Agama Republik Indonesia. Program ini menjadi bagian dari upaya mempersiapkan peserta dalam menghadapi lingkungan akademik dan pendidikan tinggi, khususnya dalam konteks studi lanjut dan pengembangan kapasitas akademik di tingkat internasional.
Melalui sinergi PPB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Puspenma Kementerian Agama RI, LAPP 2026 diharapkan dapat berkontribusi dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul, kompetitif, dan mampu mengambil peran dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta kolaborasi akademik global. (AH)
