PPB UIN Jakarta dan LPDP Adakan Monitoring dan Evaluasi Program Pengayaan Bahasa LPDP
Penulis: Addy Hasan
Jakarta - Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menggelar monitoring dan evaluasi (Monev) Program Pengayaan Bahasa LPDP bagi yang telah berjalan selama dua bulan. Rapat ini dihadiri Kepala Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) UIN Jakarta Kustiwan Syarif, M.A., Ph.D., Koordinator Bahasa Inggris PPB Dadan Nugraha, M.Pd., Ph.D. serta Pelaksana Persiapan Keberangkatan dan Pengayaan Bahasa Maretha Cikal Setiani dan Nurhida Oktaviana di Gedung PPB, Kampus 2 UIN Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa (7/4/2026).
Kepala PPB UIN Jakarta Kustiwan Syarif, M.A., Ph.D., menyampaikan kegiatan monev Program Pengayaan Bahasa LPDP ni penting untuk memastikan program berjalan sesuai target sekaligus menjadi bahan perbaikan.
“Monitoring dan evaluasi dilakukan agar capaian peserta dapat dimaksimalkan hingga akhir program,” ujarnya.
Menurut Kapus PPB UIN Jakarta ini, pelaksanaan program sejauh ini berjalan lancar meski sempat terkendala penyesuaian jadwal akibat banyaknya hari libur. PPB UIN Jakarta tetap mengupayakan agar seluruh jam pembelajaran terpenuhi.
Ia juga menjelaskan bahwa peserta, khususnya pada program IELTS, didorong mengikuti pembelajaran mandiri melalui platform daring. Progress test yang telah dilakukan tiga kali menunjukkan adanya peningkatan kemampuan peserta, terutama pada kelas TOEFL.
Selain pembelajaran di kelas, PPB UIN Jakarta menyediakan laboratorium bahasa, ruang belajar mandiri, serta menyiapkan program mentoring kelompok kecil agar kebutuhan peserta dapat ditangani lebih optimal.
Koordinator Bahasa Inggris Usulkan Mentoring Kelompok Kecil
Koordinator Bahasa Inggris PPB UIN Jakarta Dadan Nugraha, M.A., Ph.D., menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam pelaksanaan program adalah banyaknya hari libur, sementara jadwal pelatihan harus tetap selesai sesuai batas waktu dari LPDP.

Menurut Dadan, PPB UIN Jakarta telah menyesuaikan strategi pembelajaran, salah satunya dengan mengubah sistem pembelajaran mandiri menjadi guided independent learning. Melalui sistem ini, peserta tetap belajar mandiri menggunakan platform daring, tetapi progres mereka dipantau melalui Google Classroom dan jurnal belajar.
“Awalnya pembelajaran mandiri belum optimal karena tidak semua peserta konsisten. Karena itu, sekarang kami dampingi dan pantau secara lebih intensif,” ujarnya.
Dadan juga mengusulkan adanya mentoring dalam kelompok kecil berdasarkan hasil progress test. Peserta nantinya dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai kemampuan, khususnya untuk materi speaking dan writing yang membutuhkan pendampingan lebih intensif.

Menanggapi hal tersebut, perwakilan LPDP, Nurhida Oktaviana selaku Pelaksana Persiapan Keberangkatan dan Pengayaan Bahasa LPDP, menyambut baik usulan tersebut.
Ia menilai pembagian peserta ke dalam kelompok kecil akan membuat pembelajaran lebih fokus dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta.
“Kalau dibuat kelompok kecil berdasarkan hasil progress test, peserta akan lebih mudah dibina sesuai tingkat kemampuannya,” kata Nurhida.
Terkait banyaknya hari libur, LPDP menegaskan bahwa pelaksanaan program tetap harus memenuhi target 480 jam tatap muka. Oleh karena itu, penyesuaian jadwal, penambahan sesi, maupun mentoring tambahan dapat dilakukan sepanjang tetap mengacu pada ketentuan yang telah disepakati dalam RAB.

Dalam kesempatan tersebut, pihak LPDP juga bertemu dengan 6 peserta perwakilan Program Pengayaan Bahasa LPDP sebagai bagian dari monitoring dan evaluasi program tersebut
(AH)
