Zikir dan Doa Setelah Shalat dalam Tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah
Penulis: Addy Hasan, S.S., M.Hum
Zikir dan doa setelah shalat merupakan salah satu amaliah yang memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Rasulullah ﷺ mengajarkan berbagai bacaan zikir dan doa yang dibaca setelah menyelesaikan shalat fardu sebagai bentuk syukur, pengagungan kepada Allah SWT, serta sarana memohon ampunan dan keberkahan hidup.
Dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja), amaliah setelah shalat tidak hanya merujuk pada hadis-hadis sahih yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, tetapi juga mencakup praktik-praktik keagamaan yang diwariskan oleh para ulama salaf dan khalaf sepanjang sejarah Islam. Di Indonesia, tradisi ini berkembang melalui pesantren, majelis taklim, dan lembaga pendidikan Islam yang berafiliasi kepada mazhab fikih, khususnya mazhab Syafi'i.
Salah satu kitab yang menjadi rujukan utama dalam bidang zikir dan doa adalah kitab Al-Adzkar min Kalami Sayyid al-Abrar karya Imam An-Nawawi. Selain itu, umat Islam di Nusantara juga mengenal berbagai wirid dan doa yang dirangkai dari ayat-ayat Al-Qur'an, hadis, serta amalan para ulama sebagai bentuk penguatan spiritual dan pembinaan akhlak.
Artikel ini menyajikan rangkaian zikir dan doa setelah shalat yang lazim diamalkan dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah. Berikut bacaan zikir dan doa yang bisa kita amalkan.
1. Membaca Istighfar Tiga Kali
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ
Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung."
Istighfar merupakan zikir pertama yang dianjurkan setelah shalat. Rasulullah ﷺ membaca istighfar sebanyak tiga kali setelah salam sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih. Dalam praktik masyarakat Muslim Indonesia, bacaan ini sering diperpanjang dengan doa untuk kedua orang tua dan seluruh kaum muslimin.
Bacaan yang umum diamalkan
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullāhal-'Azhīmalladzī lā ilāha illā huwal-Ḥayyul-Qayyūm wa atūbu ilaih.
Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya."
Ada juga bacaan yang biasa diamalkan bacaan istiqfar disertai doa sebagai berikut
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung untuk diriku, kedua orang tuaku, seluruh orang mukmin laki-laki dan perempuan, serta seluruh muslim laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat."
2. Membaca Tahlil
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan segala pujian. Dialah Yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Kalimat tahlil merupakan inti ajaran tauhid dan menjadi salah satu zikir yang paling banyak dianjurkan dalam berbagai hadis Nabi ﷺ.
3. Doa Allahumma Antas Salam
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ وَإِلَيْكَ يَعُودُ السَّلَامُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Artinya: "Ya Allah, Engkaulah sumber keselamatan, dari-Mu keselamatan berasal dan kepada-Mu keselamatan kembali. Maka hidupkanlah kami dalam keselamatan dan masukkanlah kami ke surga, negeri keselamatan. Maha Berkah dan Maha Tinggi Engkau, wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan."
4. Membaca Surah Al-Fatihah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ ﴿٣﴾ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٤﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧﴾ آمِينَ
Dalam tradisi pesantren dan majelis zikir, Surah Al-Fatihah sering dibaca setelah shalat sebagai bentuk tawassul, doa, dan hadiah pahala kepada Rasulullah ﷺ, para sahabat, ulama, orang tua, dan kaum muslimin secara umum. Al-Fatihah dikenal sebagai Ummul Kitab (Induk Al-Qur'an) dan memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam.

(Foto: ILustrasi sebuah keluarga sedang berzikir dan berdoa seusai sholat dengan latar belakang Masjidil Haram)
5. Membaca QS. Al-Baqarah Ayat 163
وَإِلٰهُكُمْ إِلٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ
Artinya
"Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
Ayat ini menegaskan kemurnian tauhid dan sering dijadikan bagian dari wirid setelah shalat dalam berbagai tradisi ulama.
6. Membaca Ayat Kursi atau QS. Al-Baqarah: 255.
﴿٢٥٥﴾ اللَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Artinya: "Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung."
Ayat Kursi merupakan salah satu ayat paling agung dalam Al-Qur'an. Rasulullah ﷺ menganjurkan membacanya setelah shalat fardu karena memiliki keutamaan yang besar.
7. Membaca QS. Ali Imran Ayat 18–19
﴿١٨﴾ شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُوا الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
﴿١٩﴾ إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Artinya: "Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu, yang menegakkan keadilan. Tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa mengingkari ayat-ayat Allah, maka sungguh Allah sangat cepat perhitungan-Nya."
Ayat ini mengandung penegasan tauhid dan kemuliaan ilmu sehingga banyak dibaca dalam rangkaian wirid setelah shalat.
8. Membaca QS. Ali Imran Ayat 26–27
﴿٢٦﴾ قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
﴿٢٧﴾ تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۖ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ ۖ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: "Katakanlah: Wahai Allah, Pemilik seluruh kerajaan. Engkau memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebaikan. Sungguh Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.Engkau memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Engkau mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau memberi rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan."
Ayat ini mengajarkan bahwa seluruh kekuasaan, kemuliaan, rezeki, dan kehidupan berada di bawah kehendak Allah SWT.
9. Membaca Tasbih, Tahmid, dan Takbir
1. Tasbih (33 kali)
سُبْحَانَ اللَّهِ
Subḥānallāh (Maha Suci Allah) × 33
2. Tahmid (33 kali)
الْحَمْدُ لِلَّهِ
Alḥamdulillāh (Segala puji bagi Allah) × 33
3. Takbir (33 kali)
اللَّهُ أَكْبَرُ
Allāhu Akbar (Allah Maha Besar) × 33
Kemudian disempurnakan menjadi 100 kali dengan membaca:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul mulku wa lahul ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr.
Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
10. Doa Penutup
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka."
Penutup
Zikir dan doa setelah shalat dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah merupakan perpaduan antara amalan yang bersumber langsung dari hadis Nabi Muhammad ﷺ dan wirid yang diwariskan para ulama sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Keberagaman susunan wirid yang ditemukan di berbagai daerah tidak mengurangi tujuan utamanya, yaitu memperbanyak mengingat Allah, mensyukuri nikmat-Nya, memohon ampunan, serta memperkuat hubungan spiritual seorang hamba dengan Tuhannya.
Oleh karena itu, yang terpenting bukan hanya menghafal bacaan-bacaan tersebut, tetapi juga menghadirkan kekhusyukan, keikhlasan, dan penghayatan makna ketika membacanya. Dengan demikian, zikir dan doa setelah shalat dapat menjadi sarana pembinaan karakter, ketenangan jiwa, dan peningkatan kualitas keimanan dalam kehidupan sehari-hari.
Referensi :
1. Al-Qur'an al-Karim.
2. Kitab Al-Adzkar S
3. Imam An-Nawawi, Al-Adzkar min Kalami Sayyid al-Abrar.
4. Kita Riyadhus Shalihin.
5. Kitab-kitab wirid dan amaliah yang berkembang dalam tradisi pesantren Ahlus 5Sunnah wal Jamaah di Indonesia.
