Laporan dari Garut: PPB Perlu Peningkatan Mutu Pelayanan dalam Tes Kebahasaan

Rapat Kerja Pusat Pengembangan Bahasa 2018

Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar kegiatan rapat kerja di Fave Hotel, Garut, Jawa Barat (26-27/10/18). Raker ini dihadiri oleh seluruh pimpinan dan staf PPB dengan menghadirkan nara sumber Wakil Rektor 2 IAIN Syekh Nurjati, Cirebon, KH Dr. Adib Muhammad, M.Ag. Adib yang didaulat untuk memberikan paparan mengenai peningkatan layanan mutu kelembagaan, mengharapkan bahwa ada upaya sinergis antara pihak top management dengan masing-masing lembaga terkait–termasuk PPB–untuk terus mengevaluasi setiap kegiatan atau layanan sebagai bagian dari proses peningkatan mutu lembaga.

PPB, sejauh ini, merupakan satu-satunya unit pelaksana teknis di bawah kendali UIN Jakarta, sebagai pelaksana peningkatan mutu kebahasaan mahasiswa. Hampir dipastikan, PPB memiliki peran penting dalam seluruh proses peningkatan kualitas kebahasaan mahasiswa, ditengah capaian UIN menjadi kampus standar internasional (WCU). Disamping bertanggungjawab dalam hal layanan peningkatan mutu kebahasaan mahasiswa, PPB juga berkepentingan untuk melakukan evaluasi tes kebahasaan, melalui peningkatan kualitas mutu soal-soal tes bahasa, baik bahasa inggris, bahasa arab, maupun bahasa indonesia bagi penutur asing.

Kepala PPB UIN Jakarta, Siti Nurul Azkiyah,Ph.D menyatakan keseriusannya untuk terus membawa lembaga yang dipimpinnya berkomitmen dalam segala peningkatan layanan. “Masih banyak pekerjaan rumah yang harus ditingkatkan dari lembaga ini, termasuk peningkatan layanan melalui one stop information service, sekaligus berupaya meningkatkan level maksimal penguasaan bahasa asing bagi mahasiswa”, demikian tegas Azki. Ia berharap, momen raker yang digelar diluar kampus ini dapat merumuskan banyak hal yang kemudian menjadi acuan bagi peningkatan mutu dan pelayananan peningkatan kelembagaan yang direkomendasikan selanjutnya ke level top management di UIN.

Problem mengemuka terutama dalam hal pelayanan mutu tes bahasa arab, dimana peningkatan penguasaan mahasiswa atas bahasa arab masih dipandang minim. Hal ini dipaparkan koordinator bahasa arab, Mukhson Nawawi, MA yang merilis hasil persentasi kelulusan mahasiswa dalam penguasaan bahasa arab. Mukhshon menilai, persentasi mahasiswa yang hanya meningkat sekitar 2 persen dari sisi kelulusan bahasa arab, akan membuat terobosan dengan mengevaluasi modul soal dan menetapkan ITLA (modul tes bahasa arab) yang akan diberlakukan untuk seluruh mahasiswa S1 untuk memenuhi kriteria kelulusan ujian skripsi. “Saya perlu menggandeng beberapa fakultas bahasa untuk menggelar konsorsium bahasa sebagai bahan evaluasi mengukur sejauh mana modul bahasa arab yang telah ada, dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan mahasiswa”, ujarnya.

Tantangan berat lainnya dirasakan koordinator bahasa indonesia, Rosida Erowati, M.Hum. Rosida tidak hanya sebatas menjadi koordinator BIPA, tetapi juga bahasa-bahasa asing lainnya, termasuk Korea, Mandarin, dan Perancis. Baginya, BIPA masih belum maksimal dijalankan, mengingat minat mahasiswa asing untuk mempelajari bahasa indonesia masih rendah. Hal ini dibatasi oleh berbagai aturan, terutama soal beasiswa rektor yang diperoleh mahasiswa asing tersebut. Oleh karena itu, Rosida menilai perlu ada pendampingan mahasiswa lokal bagi mahasiswa asing yang akan mempelajari bahasa indonesia. “Ini saya sebut sebagai pelatihan sahabat BIPA, dimana mahasiswa pendamping juga berkeinginan belajar BIPA sehingga kultur belajar bahasa indonesia lebih menarik bagi mahasiswa asing, sehingga mereka betah di kelas untuk mempelajari bahasa”, demikian Rosida.

Disisi lain, soal peningkatan mutu kualitas mahasiswa atas kecakapan bahasa inggris, terbentur oleh adanya keinginan pihak top management untuk mengubah standar nilai dari 450 ke 500. Untuk mencapai skor 500 bagi mahasiswa tentu saja bukan hal yang mudah, karena perlu pelatihan yang intensif yang berdampak pada kebutuhan modal yang cukup besar, baik dari sisi ketersediaan pengajarnya, tempat, maupun biaya-biaya lainnya. “Level 500 untuk hasi tes bahasa seperti TOEFL, itu sangat tinggi dan mungkin bisa jadi ‘musibah’ bagi mahasiswa itu sendiri,” jelas koordinator bahasa inggris Yenny Rachmawati, M.Pd. Yenny berharap, level skor 450 sudah cukup bagi pemenuhan kualitas bahasa inggris bagi mahasiswa, kecuali untuk mahasiswa jurusan bahasa inggris memang dipatok di level 500 skornya.

Acara ini kemudian ditutup oleh rekomendasi masing-masing pihak dengan komitmen yang tinggi untuk meningkatan mutu pelayanan kebahasaan bagi mahasiswa dan juga pihak civitas akademika UIN. Wakil Rektor 2 IAIN Syekh Nurjati mengapresiasi komitmen para pimpinan dan staf PPB untuk bersinergi dalam meningkatkan mutu pelayanan, tidak saja kepada mahasiswa UIN, tetapi juga para pegawai atau masyarakat umum yang membutuhkan peningkatan kecakapan bahasa asing. Dr Adib menilai, penting untuk melakukan refresh bagi karyawan–seperti dalam pelaksanaan raker ini–dalam meningkatkan mutu kualitas kelembagaan melalui kebersamaan melalui evaluasi bersama setiap problem dengan memverifikasinya satu persatu. Adib mencontohkan, bagaimana dulu lembaganya bekerjasama dengan pihak pesantren–dengan cara jemput bola–dengan tujuan peningkatan mutu santri yang melek kampus dan menguasai beberapa bahasa asing. Modal kerjasama ini ternyata memang berhasil meningkatkan daya saing kampus sebagai lembaga pendidikan bergengsi sekaligus menunjukkan mutu dan kualitasnya sehingga kemudian menjadi pilihan masyarakat. (SYA)

You may also like...